Wednesday, May 30, 2007

ketemu Jay Chou!!! hehe ...

Inda, sebutin hal2 yang kamu tahu tentang Jay Chou!
- Taiwanese hip-hopper
- Tampang cute biarpun udah lumayan tua (no more comment lah … hehe)
- Ngga cuman nyanyi, tapi juga nyambi jadi aktor dan sutradara
- Mantan pacar Jolin Tsai, sekarang sama Patty Hou (halah, korban infotainment)

Yakin, Nda? Hehe, kayaknya sih (gubrak!)

Ya itu dia, makanya aku jadi penasaran dia tu kalo nyanyi gimana. So, aku cari aja di Multiply. Dengan sedikit perjuangan (yee, aku kan lagi stres mau ujian bow!) akhirnya aku dapet track-nya dan buru2 download.


Huang Jin Jia ... itu judulnya, dikasih tulisan dalm tanda kurung: Golden Armor. Hm, ... aku mikir2, iya juga ya. Huang = kuning, Jin = emas. Nah, cocok! Jia = armor? Yee, mana aku tahu. Tahunya aku mah ”jia” itu artinya kalo nggak rumah ya otot (halah! kikikikik ...)

Judulnya heroik ya? Iyalah, kan itu soundtracknya film Curse of Golden Flower. Ceritanya dia jadi putra mahkota kerajaan, gitu. Pasti ada adegan2 perangnya dong. Intinya, keluarga raja yang hidup dengan glamornya itu menyimpan banyak intrik bahkan di antara raja-permaisuri-pangeran itu sendiri.
Seru deh, settingnya di Forbidden City. Art directingnya? Jangan tanya. Lihat aja contoh foto promosinya ini. Kelihatan kan dari kostumnya? Udah gitu, selain dia, ada juga Chow Yun Fat yang jadi raja and Gong Li yang jadi permaisuri.

Nggak cuma judulnya yang heroik, tapi musicianshipnya juga! Masih konsisten di hip hop, dicampur sama hardcore (jadi inget Linkin Park, ... huhuhu). Bikin ”bangun”, deh. Yang eksotis, intronya pake petikan kecapi (eh, itu kecapi Cina yang namanya Khu Zheng itu apa bukan ya? :D ). Cool.

Sayangnya (satu zillion kali sayang ... duh) .... baru mau mulai chorus, tiba-tiba ... PET! Mati? Nggak sih, tapi …. Lho, kok balik lagi ke awal? Padahal time scale di software player-ku jalan seperti biasanya lho.

Waaah … ini pasti ada masalah sama proses downloadnya nih, nggak utuh jadinya! Iya sih, seingatku emang sempat terinterupsi gitu. Aaah … payah! Download managerku minta pensiun, kali.

Sekalian aja tar filmnya aku tonton deh. Penasaran jadinya, lagu itu keluar di adegan apa ya?

Undelivered Message

Ini adalah tulisan yang harusnya aku post di blog seseorang. Dia anak KU, tapi kayaknya lagi stucked sama segala hal, sampe2 dia bertanya2: Is Medicine Really my Passion? Baca aja deh, kali aja berguna :) sebenernya ini aku tulis buat diriku sendiri sih …

Dear Aaron Singh,
What you shared really hit me! Really! Nevertheless, I assure you it is in the good side, a hit brings everyone to the basic truth of personal life destination.

As a dentistry student influenced by parents, this predicament pops up in my mind for many times, usually in the bad moments … poorly. What’s good about dentistry? Money-making in careers? Ha!

My aims was to be an engineer, so if anyone hunt me to give the true answer, I would exactly say, “No. this is not what I essentially want. Honestly, I don’t wanna be here”

But here’s the fact: here I am. I’m in the 2nd year. It’s too late for me to go back or move away since we’ve spent such expense to afford the tuition. I’m facing the environment, I take the bad and the good side as a package that couldn’t be separated each other.

Is that easy? NO. That’s what I obviously say. In some hard times, I still desperately wanna escape from all of these details, being someone I wanted to be, in the faculty I wanted to go, studying something I curious about—technical science, or perhaps biotechnology.

Luckily, I have some lecturer and seniors support me truthfully. They are great people with amazing achievement. Their recipe is similar: they do not really like what they had, but they deal with such things, maximize what they had, and minimize sweat of complaints. They’re just … inspiring.

Then I see people around me and my old friends who are not able to get opportunity to go to university. In their very young age, they must do such a hard work just to help their parents fulfill daily needs. Isn’t it ironic seeing our peers having their extremely different life?

We’re still young. There will always be hundreds of golden change for success, disguising in things we dislike. We’re not a kind of little puppy, eat whenever he hungry, snooze whenever he drowsy … no, we really must do such great effort to plan up our destiny. The road is so hard to overcome, stormy and dark. Those all build our character!

We’re probably don’t get the best, but not the worst. Remember, what’s look bad for us, doesn’t always bad for Him. Allah knows anything better.

p.s. however, your title is an EXCELLENT QUESTION to ask whenever our lazy moment comes. It acts as an antagonist support, challenging plus charging up our courage. ^^

Cheers!
Inda Ardani
Indonesia

Monday, May 28, 2007

Makanan Pedes? Hmm … Mau nggak, ya?


Seperti biasanya kalo lagi pesan makanan, waktu itu aku bilang, “Mas, mie satu, nggak pedes.” Dan ternyata aku melakukan kebodohan.

Iya, baru beberapa hari kemudian mbakku yang pedesmania itu cerita kalo dia habis makan mie Aceh yang pedes banget, dan saat itulah baru aku tahu kalo masakan Aceh tu semuanya pedes. Walah, … pantesan masnya agak-agak gimanaaa gitu, mau sewot tapi ditahan, pas aku suruh dia bikin nggak pedes. Dia pasti mikir, “Gimana bisa?”terus nganggep aku orang aneh, hehehe … jadi pengen malu.

Ya begitulah, padahal waktu aku blom mahfum watak masakan Aceh itu, pas aku makan mie itu, aku sampe nangis. Iya, makan sambil keluar air mata gitu, saking pedesnya, sodara-sodara! Hehehe, ampun deh.

Itulah sekilas info tentang saya, manusia yang ngga bisa makan pedes. No lah, kasian juga ngebayangin permukaan usus kita yang fragile itu “digosok” cabe dan cs-nya. Untungnya, dari awal emang nggak suka pedes. Jadi diet antipedesnya ngga terlalu susah dijalanin (pernah tipes, bo!)

Uniknya, di keluargaku tu ada dua koalisi, mbakku + ibuku yang pedesfil, dan aku + bapakku yang pedesfob (wehehe, ingatanku terkontaminasi kimia dasar … fil dan fob, suka dan tidak). Dan ibuku yang baik hati itu selalu rela bikin dua macam masakan (biasanya pada kasus saus/bumbu pecel, rujak, atau siomai), dibikin dua mangkuk: yang pedes dan yang nggak pedes. Repot dikit, emang.

Sekarang aku udah agak2 bisa kompromi sih, malah kadang nyari2 sambal atau merica. Soalnya, sambal (cabe) itu kan bumbu juga. Kayak spaghetti udang di atas ini, kelihatan banget kan pedesnya? Dan enaknya? Hehehe ….

Jadi ingat rendang yang waktu itu dibawa mamanya Uni Eet. Bumbunya asli Bukittinggi lho, makanya khas dan tentu aja pedes. Lumayan buat rebutan aku sama kakak iparku, hahaha …

Wednesday, May 16, 2007

R U ..... U?

R u … u?
 
a.           Mendadak aku nggak konsen lagi dengerin omongan penjaga rental yang lagi jelasin sinopsis ke aku cuma gara-gara seseorang yang lewat sepintas. Dia bilang, "Ah jangan sok tahu …" menggoda orang yang lagi ngomong sama aku itu.
 
b.           Orangnya agak2 gendut, item ... (hehehe, no offense lho) ... ah gitu deh, pokoknya bikin aku inget sama seseorang.
 
c.           Well, doesn't need any particular reason for missing somebody of our past, right?
 
d.            Biar gimana, kita kan pernah temenan. Trus, misahnya juga bukan karena musuhan kok.
 
e.            Sayangnya, mbak yang bikin aku bengong sebentar itu bukan orangnya. U - r – not - u.  Tapi sepintas emang beneran mirip lho. Aku nanya, "Mbak, orang yang itu namanya 'mbak vivi' bukan?". Katanya bukan, tapi namanya mbak Kiki! Nah lho, namanya aja mirip!
f.           yaaah ….

g.           hehe, agak maksa sih. Eh, nggak papa kan aku niru2 iklan rokok? Toh aku bukan pendukung mereka :p


New Yahoo! Mail is the ultimate force in competitive emailing. Find out more at the Yahoo! Mail Championships. Plus: play games and win prizes.

Monday, May 14, 2007

Bukan sekedar ngasih obat

“Kalau kita selesai melakukan prosedur ini, jangan lupa waktu pasien pulang kita bekali amoxan,” begitu kata dosenku di sela kuliah, dan aku tersentak.

Iya sih, amoxan yang dia sebut itu adalah satu jenis antibiotik. No-no-no, aku bukannya udah baca habis satu buku ISO itu, tapi pasti kalian bisa ngertiin situasinya kalo kalian hidup seatap dengan perawat dan apoteker (gee … luv u all).

Yang bikin aku tersentak itu … kok kebeneran banget ya beberapa hari sebelumnya kakakku cerita sempat ada krisis di kebanyakan apotek di Jogja, mengenai persediaan Amoxicillin, yang generik. Karena dokter enak aja ngasih resep itu ke sembarang pasien? Well, nggak tahu. Yang jelas beberapa dokter relasi kakakku sampe terpaksa kasih resep Amox yang buatan pabrik (paten) ... misalnya Kalmoxillin, ... dan Amoxan itu!

Persoalan selesai? Hmm, ... masalahnya adalah, obat paten itu kan lebih MAHAL dari obat generik. Amoxan itu 10 kali lebih mahal dari amoxicillin generik.

Untung keadaan krisis itu udah lewat. Let’s back to the previous point. Aku kok jadi agak-agak nggak rela ya ada pasien dikasih obat yang jauh lebih mahal?

Yah, biar gitu ... Amoxan tu sepuluh biji cuma tiga puluh lima ribu sih. Nggak terlalu mahal buat kebanyakan orang, sekalipun jumah itu biasanya masih ditambah dengan obat lain yang menyertai terapi, jasa konsultasi dan jasa tindakan dokter yang punya tarif beda sebagai spesialis, dan (dalam konteks KG) bahan-bahan yang digunakan untuk perawatan (tambalan, gigi tiruan, dsb). Iya kok, palingan juga ada beberapa tambahan lagi kalo situasinya memungkinkan.

Ya udahlah ... mungkin akunya aja yang kelewat mikirin.