Saturday, September 15, 2007

Dokter = Pemimpin = Guru?


Ketika saya membuka-buka milis Forum Lingkar Pena, saya temukan postingan Pak Erwin Arianto berjudul Menjadi Pemimpin Sejati.
Postingan itu mengisahkan perbandingan antara tim Roald Amundsen dengan kompetitornya untuk menjelajahi kutub selatan. Singkatnya, Amundsen mendahului kompetitornya itu untuk mencapai kutub selatan satu bulan lebih cepat, bahkan bisa kembali dengan selamat, berbeda dengan nasib kompetitornya yang tragis. Itu semua karena kepemimpinan yang baik dari Amundsen dalam mempersiapkan segala keperluan timnya.
Cerita yang mengesankan. Meski begitu, bagian di situ yang paling membuat saya tertegun malah quotation dari John C. Maxwell, "Ibaratnya: siapapun dapat mengemudikan kapal, namun hanya pemimpin yang dapat menentukan arahnya."
Saya jadi teringat kuliah ilmu konservasi gigi minggu lalu. Dosen kami membuat kami merenungkan satu hal penting: apakah yang membuat seorang dokter berbeda. Jawabnya adalah kemampuannya untuk mendiagnosis keadaan pasien. Dia menentukan strategi apa yang selanjutnya perlu dijalankan. Sedangkan untuk pelaksanaannya, seorang dokter boleh mendelegasikan kepada pihak lain (misalnya perawat, tenaga lab, petugas radiologi, dsb).
Tetapi, pengambilan keputusan dalam diagnosis itulah yang menjadi hal pokok. Dari berbagai tanda-tanda yang terdapat pada pasien beserta keluhannya yang sering lebih dari satu, seorang dokter akan mengambil kesimpulan dalam bentuk diagnosis. Itu karena seorang dokter tentunya telah menguasai teori-teori dasar dan memadukannya untuk mengatasi kasus.
Tentu saja, kemampuan kognitif seorang dokter itu bukan sekedar untuk gaya-gayaan. Tetap saja, usaha untuk menyehatkan pasien perlu melibatkan pasien yang bersangkutan. Maka masih ada hal yang perlu diperhatikan. Seorang dokter perlu juga memahamkan mereka akan sesuatu yang mengubah perilaku mereka untuk hidup sehat.

Dokter = guru
? Saya sendiri terkejut ketika membaca esai Dr.Howard Farran dari dentaltown.com, yang memberitahukan bahwa terminologi doctor berasal dari bahasa latin docere yang berarti guru. Itulah sebabnya seorang dokter harus juga bersikap rendah hati dan tidak sok tahu terhadap pasiennya, karena hal itu mungkin hanya akan menjadikan usaha terapi jadi tidak tepat sasaran,

Memahami dan dapat dipahami ...
tidak mungkin dong seorang dokter bilang, "Mari pak, saya suntik dulu. Siapkan muskulus glutealisnya dan bapak berbaring pada sisi lateral". Hahaha, ini adalah anekdot yang saya dapat dari diktat anak FK UGM. Kalimat itu memang sedang dalam "kampanye" untuk calon dokter agar menjelaskan maksudnya dengan bahasa yang mudah dipahami.

Untuk kami yang di kedokteran gigi, Dr. Farran juga menekankan, "
If your momma doesn't use it, just leave it! Mana mungkin sih mamamu bilang, 'geserlah ke sebelah distal dari tempat tidurmu, ngapain sih kamu dari tadi diem aja di sebelah mesial'?" Hahaha ... arti mesial dan distal itu biarlah jadi milik kami dulu (tapi kalo penasaran banget boleh nanya kok :p). Intinya, jangan sampai kita malah bikin pasien jadi ngantuk (atau malah sebel) dengan penjelasan kita.

Kembali Dr. Farran mengingatkan sejawatnya, pembacanya, bahwa
anda memang sang dokter di klinik anda, tapi guru yang terbaik bagi pasien anda mungkin justru bukan anda. Mungkin perawat yang membantu anda atau malah resepsionis anda. Saya rasa itu dorongan yang bagus sekali untuk menjadikan kita bersikap lebih mawas diri (deww ... mawas diri? jadi inget nasihat dosen yang lain).

Jadi, seorang
dokter--pada banyak situasi--bertindak layaknya pemimpin sekaligus guru. Hmm, bahan renungan nih ... buat bekal saya beberapa tahun lagi (insya Allah ... hehehe).


Yahoo! Answers - Get better answers from someone who knows. Try it now.

6 of your comments here:

Adite said...

wah bener banget tuh!!
hahaha mo di injeksi mbak siapin glueta nya, miring ke lateral yaa.. abis di sunti jalannya ngesot.. hehehehe

inda_ardani said...

hehe, awas kamu yah. saya juga mau injeksi blok nervus alveolaris inferior ... cepet duduk trus buka mulutnya! habis tu kamu ngomongnya jadi gini: "obah-nya uhah mahuk bhlom?" hehehe ... ups, astaghfirullah. itu sih namanya malpraktek, mas. hahaha. ati2 deh

Hartman said...

Satu hal yang perlu diinget, apalagi klo udah berhadapan dengan pasien di dunia klinik : " jangan mementingkan dirimu sendiri,kelulusanmu, requirementmu,dan tetek bengek kampusmu yang laen, utamakanlah pasienmu, jangan paksakan mereka untuk memenuhi kelulusanmu, layanilah mereka karena kita memang 'pelayan' mereka.."
Sanggup? :)
Taruhannya satu : kelulusanmu lebih lama..ha.haa..ha..
nggak deeng..kidding
bila semua kita lakukan dengan tulus, menerimanya dengan ikhlas apapun yang terjadi pada kita, gak akan pernah ada satupun yang mampu menghalangi kita untuk menolong orang lain dan takkan ada satupun niat Allah untuk membuat hambanya menderita..
so..what's ur choice?

inda_ardani said...

patient safety aja, kak ... hehehe, ngikut programnya depkes. eh, itu program depkes bukan ya, pokoknya tahun lalu ada di majalah health and hospital indonesia :) trus kmaren juga udah disebut2 dosenku :)

duhhh ... susah juga ya jadi dokter. sering2 ajarin, kak :)

Vina Revi said...

setuju banget! jadi dokter emang gak boleh belagu dengan memakai istilah-istilah kedokteran yang mungkin akan sulit dipahami ama pasien. Kenapa harus bilang nervus kalo kita bisa memakai istilah saraf saat berdialog dengan pasien?

Lagian dalam kehidupan sehari-hari, rasanya juga nggak mungkin kalo kita bilang, "Bu, mau beli CH3COOH satu botol!" saat disuruh ibu membeli cuka di warung sebelah, kan? ... :)

Rgds,
Vina
http://www.drvinatips.org

inda_ardani said...

oke deh dokter Vina, eh ... Teh Vina. wah pasti enak ni kalo jadi pasien teh vina. hehe ... artikel yang jadi acuan saya itu, yang dari Dr. Farran, menyoal ke drg (di amrik) yang kalo jelasin prosedur PSA (perawatan saluran akar) sampe bikin pasiennya ngantuk, katanya. padahal basically pasien cuma mau 3 info:
bakalan sakit apa nggak
berapa lama perawatannya
dan
berapa harganya

gitu kata dia, hehe. kalo soal nervus di atas itu ... hehehe, biasa teh, saya ama adite suka ledek2an (iyo ora, dit? ;p) maklum, dokter lampung yang satu ini kalo becanda minta ampuuun deh :) hahaha, gak papa ding, dit!