Saturday, December 22, 2007

Orang Indonesia lebih ngerti bahasa Inggris

Seberapa paham kita terhadap bahasa sendiri?

Yang satu ini pasti bukan hal yang baru. Waktu kecil dulu saya pernah membaca suatu ulasan di koran tentang kemungkinan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat terbanyak di dunia setelah RRC, india, AS; Indonesia memiliki peluang untuk menempatkan bahasanya ke dalam jajaran bahasa internasional lain seperti Jerman dan Perancis. Sayangnya jumlah penduduk Indonesia yang dua ratus juta sekian itu tidak serta-merta menunjukkan jumlah penuturnya, karena banyaknya penduduk yang masih belum memahami apalagi menggunakan bahasa Indonesia dalam kesehariannya. Kalaupun pakai, tidak dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Fenomena salah kaprah yang banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari menimbulkan pertanyaan juga buat saya sendiri, apakah itu karena kitanya yang tidak peduli dan kurang disiplin dalam berbahasa ataukah karena dari sananya bahasa Indonesia memang sangat permisif terhadap serapan dari luar dan dari dalam?

Persoalan ini memang panjang, makanya kali ini saya ingin menyempitkannya sekaligus menyesuaikan dengan judul saya di atas dengan cara melihat ke pengalaman saya sendiri. Sebagai seorang mahasiswa kedokteran gigi, sebagian besar literatur kuliah saya tentunya berasal dari bahasa Inggris. Ada beberapa istilah Inggris yang terjemahannya cukup mengejutkan saya:

Blood coagulation ... darah yang keluar dari luka pasti tidak akan terus mengalir, suatu saat akan berhenti juga. Nah, berhentinya darah mengalir ini karena dia mengalami proses yang namanya blood coagulation, bukan pembekuan darah tetapi terjemahan tepatnya justru penjendalan darah.

Bed rest, sesuatu yang harus dijalani pasien yang sakit parah yaitu tetap berada di tempat tidur selama masa perawatan, terjemahannya adalah tirah baring.

Brittle ... entah kenapa saya lebih ngeh dengan istilah ini saat dosen menerangkan bahwa ada material sifatnya brittle ini. Ketika mendapat beban yang melewati batas toleransinya dia akan pecah berkeping-keping (bukannya menjadi lebih tipis seperti logam yang ditempa). Aneh saja rasanya, bahwa terjemahan dari brittle adalah getas.

(dental) filling, adalah sesuatu yang mungkin anda minta jika gigi anda berlubang kepada dokter gigi anda, saat anda kebetulan berada di negara western. Di tanah air kita lazim menyebutnya tambalan, meskipun dosen kami akan selalu meluruskan istilah ini menjadi tumpatan.

Mudigah ... Jika terjadi gangguan pada masa mudigah, janin dapat mengalami kelainan. Saya sempat pusing sekali memahami arti kata mudigah ini, alhamdulillah, beberapa hari kemudian, persis di hari ujian saya ingat ayat al Quran tentang proses penciptaan manusia. Salah satunya adalah tahap ”mudghoh”, yaitu secara harfiah berarti ”segumpal daging” atau secara istilah berarti embrio (untuk yang mempelajari Obs-gyn, please betulkan kalau saya keliru). Dari situlah saya simpulkan kalau mudigah adalah kata serapan dari mudghoh ini, sedangkan masa mudigah boleh dimaknai masa kandungan.

Yang satu ini lebih umum ... tahukah anda kalau terjemahan seharusnya dari kata effective and efficient adalah sangkil dan mangkus?

Saya sangat berterima kasih kalau ada yang bisa memberikan tambahan contoh :)

Tinggal ngomong aja kok repot ... kalau dianalogikan ke bahasa Inggris, saya sendiri juga berpendapat kalau mempelajari bahasa slang dan ekspresi-ekspresi colloquial sama pentingnya dengan memahami gramatika bahasa Inggris yang resmi, dua-duanya terpakai untuk skill bahasa dan wawasan sosial. Masalahnya, tak selalu kita bicara dalam suasana santai, kan? Adakalanya kita perlu—menurut istilah Dr. Suwardjono, dosen FE UGM—politically correct (saya pernah menulis pengalaman saya dengan beliau di sini).

Okey, judul di atas ini sama sekali bukan kesimpulan suatu penelitian atau survey, apalagi yang teruji validitasnya. Bukan juga untuk menyombongkan sesuatu. Justru anggap saja saya sedang prihatin dengan diri saya sendiri, meskipun saya juga terinspirasi oleh salah satu dosen saya yang mengatakan bahwa beliau lebih kesulitan membahasaindonesiakan teks Inggris dibanding menginggriskan teks Indo (saya heran kenapa begitu).

Btw maaf juga kalau saya (karena beberapa alasan) menuliskan gagasan ini juga tidak dalam koridor bahasa Indonesia yang baik dan benar. Biar begitu ... tetap saja kan kita tidak bisa menghindar bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa kita. Suka atau tidak, dia tetaplah bagian dari identitas kita. :)

* salut untuk Bu Listiana Srisanti yang tidak hanya menerjemahkan Harry Potter, tetapi juga memindahkan cita rasa sastranya kepada tempat yang berbobot sama dalam bahasa Indonesia *

Wednesday, December 19, 2007

Jilbab adalah Perempuan

“And say to the believing women that they should lower their gaze and guard their modesty; that they should not display their beauty and ornaments except what (must ordinarily) appear thereof; that they should draw their veils over their bosoms and not display their beauty, except to ...” Holy Quran. An Nur: 31


Ayat di atas adalah sesuatu yang harus saya tampilkan kepada orang tua saya ketika mereka sempat tidak memberi saya izin untuk memakai jilbab. Sebagai anak bungsu dari keluarga harmonis, seumur-umur belum pernah rasanya saya ada konflik sedalam itu. Alasan mereka adalah kuatir saya akan ikut aliran-aliran yang tidak jelas. Padahal persediaan jilbab saya sampai sekarang warna-warni begitu. Untung semua itu sudah lama lewat dan saya kembali dapat hujan cinta dari mereka :)

Sempat sedih juga, tapi waktu itu saya sudah mantap. Ini kesekian kalinya saya berniat berjilbab dan kali ini harus terwujud. Panggilan dari Allah membuat saya bersiap untuk merelakan kalau ada sesuatu yang memisahkan saya dengan orang tua.

Sok dramatis, hmm ... saya kira saya bukan satu-satunya yang mengalami hal seperti itu ketika mengawali komitmen berjilbab. Masih mending saya hanya ada konflik di rumah (dan happy ending pula!). Banyak kan muslimah yang sampai dicurigai bahkan tidak boleh sekolah hanya karena jilbabnya (terutama di masa 80 dan awal 90-an dulu). Mereka tetap bisa melewati segalanya dan merekalah yang menginspirasi saya.

Salah satu kenangan terindah saya dengan almarhumah ibu angkat saya (Ma, wo xiang ni :) ... ) yaitu ketika beliau mengajak saya meliput peragaan busana muslimah di salah satu hotel terkemuka di Jogja. Guest star malam itu adalah Ratih Sang. Dia membacakan puisi yang panjang, tetapi inti yang paling saya ingat adalah bahwa jilbab yang wujudnya hanya selembar kain itu, yang ukurannya tidak seberapa, ternyata perannya sangat besar, bahkan mampu menjaga kita sampai saat berjumpa dengan-Nya di hari akhir nanti.

Bicara soal jilbab memang sesuatu yang sensitif bahkan di kalangan perempuan sendiri. Tanpa bermaksud sok-sokan apalagi menggurui, menurut saya jilbab itu bukan sekedar kewajiban, akan tetapi sudah menjadi fitrah seorang perempuan. Perempuan mana sih yang nggak cantik? daaan ... pasti setuju dong kalo dibilang kecantikan itu sesuatu yang berharga?

Dengan pengetahuan saya yang sangat terbatas ini, kadang saya memikirkan beberapa contoh:

Kita selalu pake kosmetik, pake aksesori, pake barang-barang yang bagus buat kepentingan fashion kita

Bisnis kecantikan itu ladang yang ngga pernah kering

Dokter (dan terutama drg) selalu mempertimbangkan aspek estetika

Itu semua membuat saya berpikir lagi: berapa banyakkah yang setuju kalau saking berharganya kecantikan itu, harusnya kecantikan itu hanya diperlihatkan pada kalangan tertentu saja?

Bayangkan kita punya cek 500 juta Euro (dollar amrik kan pamornya terancam turun :p). Apakah kita akan jalan-jalan ke mana-mana sambil mengibas-ngibaskan cek itu ke setiap orang yang kita temui ataukah kita simpan di brankas dan hanya kita beritahukan ke orang yang benar-benar kita percaya?

Sebagai sesama perempuan, saya sangat memahami kalau ada banyak muslimah yang masih keberatan untuk memakai jilbab. Itu karena saya yakin bahwa jauuuh di dalam hati mereka sebenernya mereka ingin, cuma ada yang menahan keinginan mereka. Dari kebanyakan teman-teman saya yang curhat tanpa sengaja, mereka belum pakai jilbab karena merasa belum ”berkelakuan baik”. Mereka bilang mereka kuatir malah bakal memperjelek citra jilbab dengan keadaan mereka yang sekarang.

Well, padahal salah satu yang bilang kayak gitu itu temen saya yang IP-nya excellent, jadi asdos dua mata kuliah, berbakat memimpin, bahkan pelatih ekstrakurikuler di SMA-nya. Suatu catatan yang sangat layak disebut prestasi, saya sendiri jadi minder pokoknya. Menurut saya sih tidak ada dari dia yang membuat dia ”tidak pantas” memakai jilbab :)

Pasti bukan cuma saya yang ketika melihat relasi yang biasanya tidak pakai jilbab lalu tiba-tiba pakai (walaupun dengan alasan insidental) jadi merasa kalau mereka lebih cantik dibanding biasanya.

So, lovely sisters ... sekali lagi saya bilang saya bisa memahami alasan kalian kalau itu sama dengan teman saya tadi. Cuma ingatlah bahwa hidup (selamanya) adalah proses yang siapapun pasti akan mengalaminya. Kalau kita sudah berjilbab pun harus selalu introspeksi dalam banyak hal. Jadi jangan pernah takut untuk memulai. Justru dengan memulai dari sekarang, dari level apapun itu, kita akan melangkah pada jalan yang lebih jelas arahnya.

Kalau harus memilih salah satu: ce berjilbab yang kelakuannya ”kurang baik” dan ce tidak berjilbab yang kelakuannya ”baik”, saya akan memilih yang pertama. Seperti kita tahu, jilbab adalah bagian dari syariat. Betapapun itu, ketika dilakukan, ada pahala ketaatan yang tercatat untuk itu. Tentu saja, kalau harus memilih lagi, kita semua tahu best choice-nya kan? ^_^

Dulu ketika saya akan membuat komitmen ini, jelas ada ketakutan kalau-kalau suatu saat nanti saya akan bosan dan berhenti memakai jilbab. Ketakutan itu saya tepis dengan tiga kata dari merk produk terkenal: just do it. Saya pikir, toh jilbab hanyalah baju. Dan waktu itu saya sendiri berpendapat tidak apa-apa kalau kita pakai jilbab sekali-sekali saja (tidak secara konstan). Dulu? Kalau sekarang? Saya masih setuju kok, dengan cara itu frekuensinya bisa ditingkatkan, sampai kita merasa ada yang kurang kalau kita tidak pakai jilbab.

Intinya, buat teman-teman muslimah yang sudah berani berkomitmen, saya ikut seneng dan insya Allah ”hadiah” untuk itu sudah menanti. Untuk yang belum, peliharalah niat yang ada di hati kecil kalian ini, sambil terus nambah wawasan lagi, biar kita semakin paham betapa Allah ingin melindungi kita yang sangat disayangi-Nya.

Hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui :)

image was retrieved from this url.

Friday, December 7, 2007

Mau Apa di Tahun 2008

Dapet PR lagi niih, kali ini dari Mbak Gies; the blog sister who is also a dentist and to whom I lately talked to, about my daily (and freaky, hahaha) school life. I thank you a lot, sista’! Hehe, aslinya malu saya ngomong soal ginian lhooo :p

Actually I’m not a kinda “resolution” person but I think sometimes it’s important for us to have a better look into our destination. So, here is my “8 points” list.

In 2008 I plan to:

  1. Cook more frequent, not only boil and fry but also steam and bake, can’t leave the fact that kinds of beverage are potential to be varied. Just wait for my next maneuver, hahaha!
  2. Rather than backpacking; I just wanna take a trip to Jakarta, Bandung, or Semarang alone. I used to go with my parents around ... yeah you know, kinda curse for a mommy’s little girl like me, hohoho
  3. Be a better teaching and lab assistant for my lecturer and surely for my younger schoolmates
  4. Continue to learn Chinese (sure what I mean is Mandarin/HanYu, can’t hardly imagine Cantonese and the other sublanguage :p) although I wonder will I again attend a class
  5. Even a lazy one like me should get deeper into things I learn through school, right? Haha, what else can I say?
  6. Go to school in “batik” wearing! Why not? Hm, ...
  7. Then I cannot forget that 2008 would be my time to (again) arrange a research, I wish the proposal will work and surely this time I should pay much more attention into every step of it.
  8. What else? Um ... can I save this 8th spot for myself? Whoa, it’s a secret of me!

Yeah, as you see, nothing’s extravagant in my list. I just wanna do what I haven’t done and what I haven’t finished yet :)

So, what about anybody else’s thoughts?

I’d like to tag my highschool classmates Aryo (meh digawe sing filosofis yo ra popo, cah! :p) and Titish (bikin novelmu jadi cetakan ke-10, mbak! Hehe, amin), tadinya mau ke rockin’ smartgirl Arthit a.k.a Futsu Chan tapi ngga jadi karena dia udah posting resolusi dengan gayanya yang cerdas seperti biasa, and last but not least Mr. Busy-at-Works Mas Didiet. Eh, ... kalian ada waktu buat ngerjain ini nggak ya?

Here’s the point: if you think that resolution is too ‘corny’, remember that you can surely change this theme into “things you predict that would appear in 2008” so you can simply match your blog’s main theme :) otherwise ... just take it as easy as you can ^_^ 8 is not an absolute number. thanks in advance