Wednesday, December 19, 2007

Jilbab adalah Perempuan

“And say to the believing women that they should lower their gaze and guard their modesty; that they should not display their beauty and ornaments except what (must ordinarily) appear thereof; that they should draw their veils over their bosoms and not display their beauty, except to ...” Holy Quran. An Nur: 31


Ayat di atas adalah sesuatu yang harus saya tampilkan kepada orang tua saya ketika mereka sempat tidak memberi saya izin untuk memakai jilbab. Sebagai anak bungsu dari keluarga harmonis, seumur-umur belum pernah rasanya saya ada konflik sedalam itu. Alasan mereka adalah kuatir saya akan ikut aliran-aliran yang tidak jelas. Padahal persediaan jilbab saya sampai sekarang warna-warni begitu. Untung semua itu sudah lama lewat dan saya kembali dapat hujan cinta dari mereka :)

Sempat sedih juga, tapi waktu itu saya sudah mantap. Ini kesekian kalinya saya berniat berjilbab dan kali ini harus terwujud. Panggilan dari Allah membuat saya bersiap untuk merelakan kalau ada sesuatu yang memisahkan saya dengan orang tua.

Sok dramatis, hmm ... saya kira saya bukan satu-satunya yang mengalami hal seperti itu ketika mengawali komitmen berjilbab. Masih mending saya hanya ada konflik di rumah (dan happy ending pula!). Banyak kan muslimah yang sampai dicurigai bahkan tidak boleh sekolah hanya karena jilbabnya (terutama di masa 80 dan awal 90-an dulu). Mereka tetap bisa melewati segalanya dan merekalah yang menginspirasi saya.

Salah satu kenangan terindah saya dengan almarhumah ibu angkat saya (Ma, wo xiang ni :) ... ) yaitu ketika beliau mengajak saya meliput peragaan busana muslimah di salah satu hotel terkemuka di Jogja. Guest star malam itu adalah Ratih Sang. Dia membacakan puisi yang panjang, tetapi inti yang paling saya ingat adalah bahwa jilbab yang wujudnya hanya selembar kain itu, yang ukurannya tidak seberapa, ternyata perannya sangat besar, bahkan mampu menjaga kita sampai saat berjumpa dengan-Nya di hari akhir nanti.

Bicara soal jilbab memang sesuatu yang sensitif bahkan di kalangan perempuan sendiri. Tanpa bermaksud sok-sokan apalagi menggurui, menurut saya jilbab itu bukan sekedar kewajiban, akan tetapi sudah menjadi fitrah seorang perempuan. Perempuan mana sih yang nggak cantik? daaan ... pasti setuju dong kalo dibilang kecantikan itu sesuatu yang berharga?

Dengan pengetahuan saya yang sangat terbatas ini, kadang saya memikirkan beberapa contoh:

Kita selalu pake kosmetik, pake aksesori, pake barang-barang yang bagus buat kepentingan fashion kita

Bisnis kecantikan itu ladang yang ngga pernah kering

Dokter (dan terutama drg) selalu mempertimbangkan aspek estetika

Itu semua membuat saya berpikir lagi: berapa banyakkah yang setuju kalau saking berharganya kecantikan itu, harusnya kecantikan itu hanya diperlihatkan pada kalangan tertentu saja?

Bayangkan kita punya cek 500 juta Euro (dollar amrik kan pamornya terancam turun :p). Apakah kita akan jalan-jalan ke mana-mana sambil mengibas-ngibaskan cek itu ke setiap orang yang kita temui ataukah kita simpan di brankas dan hanya kita beritahukan ke orang yang benar-benar kita percaya?

Sebagai sesama perempuan, saya sangat memahami kalau ada banyak muslimah yang masih keberatan untuk memakai jilbab. Itu karena saya yakin bahwa jauuuh di dalam hati mereka sebenernya mereka ingin, cuma ada yang menahan keinginan mereka. Dari kebanyakan teman-teman saya yang curhat tanpa sengaja, mereka belum pakai jilbab karena merasa belum ”berkelakuan baik”. Mereka bilang mereka kuatir malah bakal memperjelek citra jilbab dengan keadaan mereka yang sekarang.

Well, padahal salah satu yang bilang kayak gitu itu temen saya yang IP-nya excellent, jadi asdos dua mata kuliah, berbakat memimpin, bahkan pelatih ekstrakurikuler di SMA-nya. Suatu catatan yang sangat layak disebut prestasi, saya sendiri jadi minder pokoknya. Menurut saya sih tidak ada dari dia yang membuat dia ”tidak pantas” memakai jilbab :)

Pasti bukan cuma saya yang ketika melihat relasi yang biasanya tidak pakai jilbab lalu tiba-tiba pakai (walaupun dengan alasan insidental) jadi merasa kalau mereka lebih cantik dibanding biasanya.

So, lovely sisters ... sekali lagi saya bilang saya bisa memahami alasan kalian kalau itu sama dengan teman saya tadi. Cuma ingatlah bahwa hidup (selamanya) adalah proses yang siapapun pasti akan mengalaminya. Kalau kita sudah berjilbab pun harus selalu introspeksi dalam banyak hal. Jadi jangan pernah takut untuk memulai. Justru dengan memulai dari sekarang, dari level apapun itu, kita akan melangkah pada jalan yang lebih jelas arahnya.

Kalau harus memilih salah satu: ce berjilbab yang kelakuannya ”kurang baik” dan ce tidak berjilbab yang kelakuannya ”baik”, saya akan memilih yang pertama. Seperti kita tahu, jilbab adalah bagian dari syariat. Betapapun itu, ketika dilakukan, ada pahala ketaatan yang tercatat untuk itu. Tentu saja, kalau harus memilih lagi, kita semua tahu best choice-nya kan? ^_^

Dulu ketika saya akan membuat komitmen ini, jelas ada ketakutan kalau-kalau suatu saat nanti saya akan bosan dan berhenti memakai jilbab. Ketakutan itu saya tepis dengan tiga kata dari merk produk terkenal: just do it. Saya pikir, toh jilbab hanyalah baju. Dan waktu itu saya sendiri berpendapat tidak apa-apa kalau kita pakai jilbab sekali-sekali saja (tidak secara konstan). Dulu? Kalau sekarang? Saya masih setuju kok, dengan cara itu frekuensinya bisa ditingkatkan, sampai kita merasa ada yang kurang kalau kita tidak pakai jilbab.

Intinya, buat teman-teman muslimah yang sudah berani berkomitmen, saya ikut seneng dan insya Allah ”hadiah” untuk itu sudah menanti. Untuk yang belum, peliharalah niat yang ada di hati kecil kalian ini, sambil terus nambah wawasan lagi, biar kita semakin paham betapa Allah ingin melindungi kita yang sangat disayangi-Nya.

Hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui :)

image was retrieved from this url.

17 of your comments here:

Eucalyptus said...

Insya Allah dengan jilbab kita akan lebih berhati-hati dalam segala tindakan. Jilbab juga merupakan "rem" bagi perempuan untuk bertindak diluar norma. Semoga

Oliv said...

Tujuan berjilbab adalah untuk memenuhi peintah Allah. Jadi harus diperhatikan aturannya. Bukan seperti yang trrend sekarang "jilbab gaul "
Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diberi-Nya petunjuk :-)

inda_ardani said...

Eucalyptus berkata...

Insya Allah dengan jilbab kita akan lebih berhati-hati dalam segala tindakan. Jilbab juga merupakan "rem" bagi perempuan untuk bertindak diluar norma. Semoga

that's right :) makasih mba, insya Allah masukan mba akan selalu saya ingat juga


Tujuan berjilbab adalah untuk memenuhi peintah Allah. Jadi harus diperhatikan aturannya. Bukan seperti yang trrend sekarang "jilbab gaul "
Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diberi-Nya petunjuk :-)

ya, saya juga percaya tanpa niat untuk menjalankan perintah Allah itu pasti akan sulit untuk mempertahankan prinsip berjilbab karena godaannya juga banyak banget :) ehm, ... apakah tulisan saya terkesan menggampangkan syariat? saya hanya ingin menyemangati teman-teman yang masih "takut" berjilbab :) makasih mba

dasir said...

Setiap perintah dan syariat yang diturunkan Allah pasti ada manfaat dan tujuannya. Jilbab adalah salah satu perintah dari sekian banyak perintah Allah. Prinsip perintah adalah harus dilaksanakan dan melanggar perintah juga ada konsekwensinya. Jadi jangan takut berjilbab, hanya karena takut dicap mengikuti aliran-aliran tertentu. Tetap mengajak muslimah lain untuk berjilbab...

ijal said...

jilbap... yes... *lho?*

inda_ardani said...

dasir said...

Setiap perintah dan syariat yang diturunkan Allah pasti ada manfaat dan tujuannya. Jilbab adalah salah satu perintah dari sekian banyak perintah Allah. Prinsip perintah adalah harus dilaksanakan dan melanggar perintah juga ada konsekwensinya. Jadi jangan takut berjilbab, hanya karena takut dicap mengikuti aliran-aliran tertentu. Tetap mengajak muslimah lain untuk berjilbab...

setuju pak, memang memakai jilbab itu harus dilandasi iman, seperti yang saya bilang di atas, kalau tidak begitu godaannya sangat berat, ini saya juga masih berproses siih ... insya Allah sudah istiqomah pak, dan ya tentu saja kita semua seharusnya mengkampanyekan jilbab


ijal said...

jilbap... yes... *lho?*

kok kayaknya semangat banget, hehehe makasih buat supportnya

Adite said...

tapi nda, klo menurut ku lebih baik cewek yang kelakuannya baek daripada cewek berjilbab yang kelakuannya enggak baek.. abis nyokapku cerewet banget tuh sama yang kayak gitu, pasti langsung komentar "jilbaban kok kelakuannya kayak gitu.."

liat deh acara mamamia.. ibu nya jilbaban, tapi anaknya malah dipakein baju yang buka-bukaan.. "jilbaban tapi kok anaknya dijual gitu.." nah lhooo...

mendingan cewek jilbaban tapi lantas jangan kelakuannya yang teramat sangat bikin pandangan orang laen jadi negatif.. bikin orang laen memandang islam tapi kok kelakuannya gak bener/islam tapi kok bla bla bla.. jilbab tapi kok bla bla bla.... bener2 menyakitkan mendengarnya...

ntah lah... udah mo kiamat kali ya... makin banyak nabi2 palsu.. salju turun di mana2.. udah gak bener nih

ramdhany.wordpress.com said...

Niat baik adalah kebaikan
Keinginan baik adalah kebaikan
Teladan yang baik adalah kebaikan

Sekecil apapun
Seringan apapun
Secuil sekalipun
Kebaikan adalah kebaikan

Meski harus belajar
Meski baru hanya sekedar niat
Meski harus tertatih
Tersandung
Dan terbata-bata

Tak ada bidadari
Yang lebih indah
yang jauh lebih anggun
Ketimbang wanita yang berjilbab
Yang tersenyum


Allahu mubarik fik...

inda_ardani said...

Adite said...

tapi nda, klo menurut ku lebih baik cewek yang kelakuannya baek daripada cewek berjilbab yang kelakuannya enggak baek.. abis nyokapku cerewet banget tuh sama yang kayak gitu, pasti langsung komentar "jilbaban kok kelakuannya kayak gitu.."

liat deh acara mamamia.. ibu nya jilbaban, tapi anaknya malah dipakein baju yang buka-bukaan.. "jilbaban tapi kok anaknya dijual gitu.." nah lhooo...

mendingan cewek jilbaban tapi lantas jangan kelakuannya yang teramat sangat bikin pandangan orang laen jadi negatif.. bikin orang laen memandang islam tapi kok kelakuannya gak bener/islam tapi kok bla bla bla.. jilbab tapi kok bla bla bla.... bener2 menyakitkan mendengarnya...

ntah lah... udah mo kiamat kali ya... makin banyak nabi2 palsu.. salju turun di mana2.. udah gak bener nih


hehe, makasih buat masukannya, dit. sebenernya ini yang aku tunggu, kenapa masih banyak juga ce jilbab yg kelakuannya ngga pantes (termasuk aku? :p)
pertama-tama musti kita pegang prinsip kalo yang namanya karakter orang tu harus dinilai dari berbagai sisi, aku juga punya banyak temen yang baik banget tapi nggak pake jilbab sekalipun agamanya islam, dan ada juga yang pake jilbab tapi kelakuannya bikin yang liat ikutan malu (atau malah lebih malu, sementara dia sendiri nggak malu? dunno)

don’t misjudge me, kita juga nggak mungkin mendiskriminasi temen hanya karena masalah pakaian gini :)

satu lagi semua orang bisa aja khilaf, nggak peduli apakah dia pake jilbab ato nggak (adite ngga pake jilbab kan, hahaha ...). kalo kamu nemuin ce jilbab yang ngeselin, mungkin aja kan dia tu nggak nyadar, asal dikasih tau dengan cara yang tepat mungkin aja dia berubah. yah seenggak2nya kita coba bilangin lah, kalo kitanya pasif juga sebenernya kita ngga berhak nyalahin or ngomongin di belakang dia.

bukannya sok2an, pake jilbab tu ngga gampang lho dit. banyak requirement-nya, gitu (kayak ko-ass aja :p). panjang deh kalo mau dibilangin, hehehe. yah anggep aja temenmu yg pake jilbab tapi nyebelin itu belum memenuhi semua requirement-nya. masih proses, gitu. btw salam hormat buat mamamu


ramdhany.wordpress.com said...

Niat baik adalah kebaikan
Keinginan baik adalah kebaikan
Teladan yang baik adalah kebaikan

Sekecil apapun
Seringan apapun
Secuil sekalipun
Kebaikan adalah kebaikan

Meski harus belajar
Meski baru hanya sekedar niat
Meski harus tertatih
Tersandung
Dan terbata-bata

Tak ada bidadari
Yang lebih indah
yang jauh lebih anggun
Ketimbang wanita yang berjilbab
Yang tersenyum


Allahu mubarik fik...


wah baru kali ini saya dapat komentar bentuknya puisi. saya bilang terima kasih juga pasti nggak akan bisa bandingin bobotnya, hehehe. makasih sekali lho

iKings94 said...

Jilbab bukan kerudung..
Jilbab adalah sesuatu yang menutupi aurat..
Jilbab bisa berwarna-warni..
Jilbab wajib hukumnya..
Jilbab mempercantik pemakainya..
Sungguh.. demi Allah saya lebih senang dengan orang yang bisa menjaga dirinya dari perbuatan yang dilaknat..
Semoga dengan jilbab, hijab kan terjaga..
:)

ferry3 said...

Menurutku berjilbab/menutup aurat adalah kewajiban, seperti wajibnya SHOLAT...jadi kalo ada ce yang tidak/enggan berjilbab, harus dipertanyakan ke-ISLAM-anya, seperti orang yang tidak sholat....

inda_ardani said...

iKings94 said...

Jilbab bukan kerudung..
Jilbab adalah sesuatu yang menutupi aurat..
Jilbab bisa berwarna-warni..
Jilbab wajib hukumnya..
Jilbab mempercantik pemakainya..
Sungguh.. demi Allah saya lebih senang dengan orang yang bisa menjaga dirinya dari perbuatan yang dilaknat..
Semoga dengan jilbab, hijab kan terjaga..
:)

hm, ada puisi lagi. terima kasih. ya saya juga setuju dengan definisi di situ. definisi jilbab sebetulnya memang bukan hanya sekedar kain kerudung tetapi itulah definisi yang lebih dikenal di indonesia. amin untuk doanya

ferry3 said...

Menurutku berjilbab/menutup aurat adalah kewajiban, seperti wajibnya SHOLAT...jadi kalo ada ce yang tidak/enggan berjilbab, harus dipertanyakan ke-ISLAM-anya, seperti orang yang tidak sholat....

saya belajar dari buku "saya memilih islam". buku itu berisi pengalaman pada muallaf (di antaranya termasuk selebriti t.blezynski dan c.claudia harahap) untuk menemukan islam, yang ternyata banyak di antaranya harus menempuh jalan yang sulit (ada yang diancam keluarganya) sampai akhirnya bisa menjalankan ibadah sehari-hari seperti sholat dan puasa. selain menghadapi orang-orang yang menentang, mereka juga bergumul dengan banyak persoalan, sehingga banyak di antaranya yang harus melalui proses panjang. contohnya, mereka sudah mantap dengan kebenaran islam, tetapi mengucapkan syahadat baru beberapa tahun kemudian. untuk menjalankan sholat dan puasa pun memerlukan proses lagi.

saya hanya ingin menganalogikan dari buku itu bahwa beragama adalah proses yang bertahap. ada yang dilalui dengan cepat, ada yang perlu waktu lbih lama (kita tahu mana yang terbaik). termasuk mengenai jilbab ini, saya rasa kalau ada muslimah yang belum berjilbab kita perlu melihat lebih dekat apa masalah penghalangnya, karena masalah itu sangat individual. bisa saja dia tidak memakai jilbab karena kondisi ekomoninya bahkan sangat sulit untuk biaya makan sehari-hari.

terima kasih untuk masukannya. mengenai analogi sholat itu memang benar, hanya saja kalau disampaikan persis seperti itu ... memang cara keras mungkin juga bisa efektif, tapi menurut saya karena muslimah adalah perempuan, umumnya lebih efektif jika didekati dengan cara yang arif. Allahualam

yonna said...

halo mbak Inda salam kenal :)

saya support perjuangan memakai jilbab dari nol sampe sekarang. saya pun juga berjilbab, alhamdulillah 7 tahun sudah :)

hmmm....dengan berjilbab kita berarti menambah komitmen keislaman kita untuk selalu berusaha kaffah dalam beramal dan berilmu.

jilbab adalah alat kendali emosi dan nafsu. meski tetap manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan, tapi kita punya alat kontrol sendiri dan tentu saja menguntungkan karena kalau lepas kendali toh yang rugi kita juga kan?! :)

btw, banyak artikelnya yang bagus2 saya ampe bingung mau baca yang mana hehe, salam.

inda_ardani said...

salam kenal juga mbak yonna. saya pernah membaca komentar mbak yonna di salah satu blog tentang jilbab dan saya salut juga dengan semangat mbak yonna. yuk mari kita berjilbab dan mudah-mudahan lebih banyak lagi perempuan yang memakai jilbab

thank you mbak yonna

dompit said...

setuju bu / mbak, sayang "nike" (just do it) belum produksi jilbab ya..

ahmad said...

setuju jilbab memang seharusnya melekat pada setiap muslimah.....
asal tidak cuma sekedar "surroh" aja.yang kelakuanya trnyata jauh dari sikap islami..
percuma klo gitu.

berjilbablah untuk diri kalian sendiri wahai muslimah2 sejati.....
Allah sangat pham untuk apa kalian pke jilbab....

FKI ISMA UMM said...

Pertahankan Islammu hingga nafas terakhir ya ukhti